Surat untuk ‘Za…

“Za, kawanku yang baik…
Jika engkau baca surat ini, artinya telah 9 tahun berlalu sejak perbincangan kita di sebuah hiruk pikuk teriakan mahasiswa yang turun ke jalan…”

Karena itulah aku tuliskan surat ini untuk mu.
Kau pernah baca catatan harian John Perkins yang kemudian diterbitkan dalam ‘Confession of an Economic Hit Man’? Aku tidak meragukanmu, tapi semoga kau masih tetap bersedia menyediakan sedikit waktu untuk kemanusiaan dan keintelektualanmu dengan membaca ditengah jadwal-jadwal padat itu. Agenda-agenda pesanan tersebut. Terutama tentang hutang dan strategi pembangunan di dunia ketiga. Ini salah satunya yang kusebut semacam campur tangan organ-organ kapitalisme global. Ada dua istilah penting Za; coorporatocracy dan Manifest Destiny. Dua terminologi ini yang menjadi andil penting penjajahan pada banyak negara di dunia.

……

Lebih Lengkap, klik: “SURAT UNTUK ‘ZA”

5 responses

27 06 2008
mengejaperistiwa

jujur, masih perlukah hal itu? jujur pada za, jujur pada negara?
tetapi jujur pada Tuhan itu sepertinya tidak perlu! Dan lagi, ada yang mengatakan bahwa jujur itu berbahaya, sedangkan korupsi, ari ketidakjujurankah lahirnya, atau karena ada kesempatan, atau suatu tradisi turun-temurun pendahulu kita?? atau korupsi sebuah warisankah?

persidangan ketidakjujuran disidangkan di mimbar takadanya kejujuran..

ahh…jujur itu kuno!!

dan perjuangna Anda bersama Za?
menurutku, korupsi hanya bisa diberantas dengan sistem dan sikap yang tegas, sayangnya orang-ornag seperti Anda dan Za masih sedikit..
Saya sendiri baru bisa menerapkanya pd lingkup paling sederhana, diri sendiri, keluarga, dan sahabat dekat!

salam

“jujur pada diri sendiri, mungkin :-) . Salam juga ya, bung Sutrisno…”

27 06 2008
winars

bung Sotrisno?
dari mana Anda tau nama itu?
saya tak mengerti, apa??

apa?

“Ada masalah dengan nama itu?” :-)

27 06 2008
winars

apa nama itu hanya kebetulan saja??
ahh..mungkin iya..!

12 08 2008
Donny Setiadi

Ketika kita diberi pilihan ya dan tidak, apakah jika kita memilih ya kita kan jatuh, atau sebaliknya? pilihan bukan hanya suatu keputusan, tetapi takdir. Tuhan telah menentukan banyak pilihan untuk kita, itulah yang akan menjadi kehidupan. Munir telah memilih jujur dan mati ditangan subkorporasi korupsi. tapi matinya munir bukan kenginannya melainkan pilihan membunuh bagi pembunuh. Dan munir tahu bahwa ia akan mati seperti itu karena ia telah memilih iya terhadap kejujuran dan kebenaran. Tapi sayang bagi pembunuh, yang dikiranya matinya tokoh kejujuran akan mati pula kebenaran. Ketahuilah bahwa kejujuran dan kebenaran butuh jiwa pejuangnya sebagai tumbal. “Kuberikan jiwa untuk kebenaran itu”. Di dunia yang penuh pembohong ini, apakah masih perlu kita berbohong???

20 03 2009
seseorang

terimakasih..

Leave a comment